Pimpinan dan Walikota Tangerang

Pimpinan dan Walikota Tangerang Bapak H. Arief R Wismansyah berpose saat di Tanah Suci.

Jamaah Haji KBIH Nurul Hikmah

Jamaah Haji KBIH Nurul Hikmah di Pelataran Masjid Nabawi.

Jamaah Umroh 2014 KBIH Nurul Hikmah

Jamaah Umroh KBIH Nurul Hikmah berpose di pelataran Masjid Nabawi.

Masjidil Haram dalam Perbaikan

Beberapa gambar saat perombakan Masjidil Haram yang diprediksi kelar pada 2016.

Pembukaan Manasik Haji 2014

Kabid Haji Provinsi Banten tengah menyampaikan pidato pada pembukaan Manasik Haji 2014.

Tampilkan postingan dengan label nurul hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nurul hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Maret 2014

Meluruskan Niat ke Tanah Suci

Menjelang berangkat ke tanah suci, sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri: niat apakah yang melandasi kepergian kita berhaji? Realitasnya, ternyata sangat beragam. Mulai dari yang berhaji karena ‘tidak sengaja’ diajak saudara atau penugasan kerja, ingin dapat predikat dan penghargaan masyarakat, sampai kepada yang memang ingin beribadah menyempurnakan kualitas jiwanya disana.

Apakah tidak boleh kita memiliki background niat yang bermacam-macam seperti itu? Ooh, boleh-boleh saja, tidak ada yang melarang. Tetapi, ternyata Allah mengajarkan di dalam Al Qur’an agar kita meluruskan niat dalam menjalani ibadah ini. Justru, dikarenakan beragamnya niatan orang-orang yang datang dari segala penjuru Bumi itu.

QS. Al Baqarah (2): 196
Wa atimmul  hajja wal ‘umrota lillaah...
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh(mu) karena Allah semata...

Kata ‘menyempurnakan’ dalam ayat itu mengindikasikan adanya berbagai macam niat dalam beribadah haji. Termasuk niat untuk sambil berdagang atau bekerja yang memang diperbolehkan oleh Allah, sebagaimana diinformasikan dalam ayat-ayat sesudahnya. Tetapi, ketika ritual haji sudah dimulai, semuanya harus meluruskan niat untuk hanya beribadah kepada Allah semata. Banyak-banyak berdzikir mengingat Allah.

QS. Al Baqarah (2): 198
Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia Tuhanmu (berniaga di musim haji). Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam (sebanyak-banyaknya). Dan berdzikirlah kepada Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu. Dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang tersesat.

Bahkan anjuran untuk menyempurnakan niat itu berlaku juga bagi mereka yang meniatkan ibadah, tetapi belum sempurna ‘karena Allah’. Banyak peribadatan sepanjang haji itu yang bisa menjebak kita untuk ‘tidak karena Allah’. Sehingga membuat ibadah kita kurang sempurna.

Seorang kawan ketika ditanya tentang niatnya beribadah haji menjawab begini: ‘’Saya ingin berdoa di tanah suci agar masalah yang menghimpit hidup saya cepat teratasi.’’ Sebuah niat ibadah yang cukup baik, tetapi bisa menurunkan kesempurnaan haji jika ‘meleset’ dalam persepsi. Mirip dengan seseorang yang menjalankan shalat Dhuha karena ingin dapat rezeki, atau melakukan puasa karena ingin lulus ujian.

Yang begini ini, jika tidak kita sadari, bisa menjebak kita ke dalam praktek ibadah yang bukan karena Allah semata. Tetapi, dikarenakan rezeki dan lulus ujian. Jangan. Ibadah mesti ‘lillaahi ta’ala’ – hanya karena Allah semata. Bahwa, setelah itu kita menjadi dekat dengan Allah, dan segala macam masalah hidup teratasi dengan baik, itu adalah ‘bonus’ dari perilaku yang benar di jalan Allah.

Niatan dan persepsi yang salah dalam berdoa di tanah suci itulah yang lantas melahirkan berbagai praktek yang keliru pula. Sehingga banyak orang yang ‘titip doa’ kepada saudara atau sahabatnya yang sedang menunaikan ibadah haji, agar dibacakan di depan Kakbah. Mereka beranggapan doa yang dibacakan di tempat mustajab itu pasti terkabul, tidak sebagaimana kalau mereka panjatkan di tanah air. Apalagi ada yang menambahkan dengan kalimat begini: ‘’Ya Allah, kami sudah bertahun-tahun berdoa di tanah air belum juga Engkau kabulkan, kini kami datang ke rumah-Mu untuk berdoa agar Engkau penuhi...’’

Rupanya si jamaah haji atau orang yang titip doa itu mengira Allah berada di dalam Kakbah. Mungkin karena tempat suci itu disebut sebagai Baitullah alias ‘Rumah Allah’. Sedangkan di tanah air ia merasa jauh dari Allah, sehingga doanya tidak mustajab. Tentu saja yang begini ini berselisihan dengani ajaran Al Qur’an yang mengatakan bahwa Allah itu sudah sangat dekat – lebih dekat dari urat leher kita sendiri – dan Dia akan mengabulkan doa orang-orang yang memang bermohon kepada-Nya dimana pun ia berada, selama ia melakukannya dengan benar.

QS. Al Baqarah (2): 186
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia (memang) bermohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman (hanya) kepada-Ku, agar mereka berada di dalam kebenaran.

Berhaji harus meluruskan niat karena Allah semata. Di tanah suci itulah kita sedang ‘bertamu’ kepada-Nya untuk berburu hikmah dalam menyempurnakan kualitas jiwa. Meningkatkan spiritualitas menuju kesempurnaan seorang hamba di hadapan Tuhannya. Meniru keikhlasan keluarga Nabi Ibrahim yang hanif (lurus) dalam bertauhid hanya kepada-Nya...

QS. An Nahl (16): 120-122
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (ia pandai) mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Walahu a’lam bishshawab.

sumber: http://m.facebook.com/notes/agus-mustofa/tasawuf-haji-5/10151075424041837/?p=10

Minggu, 28 Juli 2013

BUKA PUASA BERSAMA 2013

Ahad, 21 Juli 2013, KBIH Nurul Hikmah menggelar acara buka puasa bersama, sebagai rutinitas dari rangkaian kegiatan acara Manasik Haji setiap tahunnya. Dalam acara tersebut hadir Kepala Kantor Agama Kota Tangerang, Kasie Haji Provinsi Banten, Kasie Haji Kota Tangerang dan para staf, dan hampir 200 dari total 245 calon jamaah haji 2013.

Alhamdulillah, tahapan demi tahapan dari kegiatan manasik haji KBIH Nurul Hikmah telah selesai. Sejak dibuka pada Januari 2013, semua kegiatan berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Hanya yang sangat mengejutkan bagi semua calon jamaah haji Indonesia dan bahkan di seluruh dunia, yaitu keputusan mendadak dan sepihak dari Pemerintah Arab Saudar perihal pemangkasan 20 kuota haji untuk seluruh negara terkait pembangunan besar-besaran areal Masjidil Haram.

Singkat kata, karena berbagai keputusan yang keluar sudah menjadi maklum karena faktor dan sebab yang dapat diterima semua pihak. Walau berat hati, Alhamdulillah semua sudah menerima dengan ikhlas. Berharap semoga semua ini ada hikmah dan tahun depan mendapat kepastian keberangkatan, sebagaimana janji pemerintah, bahwa jamaah yang telah melunasi di tahun ini akan mendapat prioritas keberangkatan di tahun depan, sebagai mana Permen Agama, 2 Juli 2013.

Untuk KBIH Nurul Hikmah sendiri, setidak ada sekitar 36 jama’ah yang terpangkas. Alhamdulillah, semua jamaah telah menerima dengan lapang dada atas keputusan pemerintah tersebut. Walau berat, namun bisa difahami. Soal biaya, disampaikan Asisten Pimpinan KBIH Nurul Hikmah, H. Ahmad Damanhuri, sebagaimana tertuang dalam Permen, bahwa jamaah haji yang telah melunasi tahun ini, jika di tahun depan ada kenaikan, maka jamaah tidak terkena imbas kenaikan, berlaku biaya tahun sebelumnya. Namun jika ada penurunan ongkos, maka kelebihan jamaah yang telah melunasi tahun lalu mendapat pemulangan.

Kini tinggal ada dua acara yang tersisa dari 24 kali pertemuan rangkaian kegiatan manasik haji di KBIH Nurul Hikmah. Yaitu Halal Bi halal tanggal 18 Agustus dan Syukuran Kepulangan Jamaah Haji tanggal 10 November 2013.

Akhiron, kami berharap semua jamaah dapat menjaga kesehatan masing-masing sehingga waktu keberangkatan kelak semua dalam keadaan sehat wal afiat. Kami ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa.