Pimpinan dan Walikota Tangerang

Pimpinan dan Walikota Tangerang Bapak H. Arief R Wismansyah berpose saat di Tanah Suci.

Jamaah Haji KBIH Nurul Hikmah

Jamaah Haji KBIH Nurul Hikmah di Pelataran Masjid Nabawi.

Jamaah Umroh 2014 KBIH Nurul Hikmah

Jamaah Umroh KBIH Nurul Hikmah berpose di pelataran Masjid Nabawi.

Masjidil Haram dalam Perbaikan

Beberapa gambar saat perombakan Masjidil Haram yang diprediksi kelar pada 2016.

Pembukaan Manasik Haji 2014

Kabid Haji Provinsi Banten tengah menyampaikan pidato pada pembukaan Manasik Haji 2014.

Rabu, 28 Januari 2015

Membayar Dam/Fidyah dalam Haji & Umroh

Materi ini perlu kami sampaikan tersendiri karena banyak pemahaman yang keliru bahwa semua pelanggaran larangan ihram harus dibayar dengan menyembelih seekor kambing/Dam padahal TIDAK SEMUA PELANGGARAN LARANGAN IHRAM HARUS DENGAN MENYEMBELIH HEWAN TERNAK.

Dalam Kitab Al Mughnie, Syaih Sa’id bin Abdul Qodir Basyanfar membagi kategori pelanggaran ihram ke dalam empat macam faktor.
4 Faktor yang membuat orang yang berihram wajib membayar Dam/ Fidyah
  1. Melanggar kesucian ihram ketika melakukan pelanggaran larangan ihram.
  2. Jika melanggar salah satu wajib haji atau umrah.
  3. jika tertahan atau kehabisan waktu ibadah haji
  4. Dam Mut’ah atau dam qiran
Pada kali ini kita akan membahas kategori Jenis Pertama yaitu: Jika melanggar larangan Ihram Haji / Umrah. Pelanggaran jenis ini seringkali terjadi pada jamaah haji ketika sedang berihram. Oleh karena itu kami perlu membahasnya lebih mendalam.

Melakukan Pelanggaran Ihram berupa:

1. Mencukur Rambut dan sejenisnya 

Jika seseorang yang berihram mencukur rambut, memotong kuku, memakai wewangian, memakai pakaian yang berjahit atau menutup kepala bagi laki-laki); memakai cadar atau sarung tangan bagi wanita, maka ia wajib membayar fidyah dengan jalan memilih diantara tiga pilihan berikut:

  1. Berpuasa selama 3 hari
  2. Bersedekah 1/2 sha dari makanan yang mengenyangkan (=2 mud= 1,5 Kg beras) kepada masing-masing 6 orang miskin
  3. Menyembelih seekor kambing
Hal ini berdasarkan Firman Allah SWT yang artinya sebagai berikut:

“Jika ada di antara kamu yang sakit atau gangguan di kepalanya (lalu bercukur), wajib baginya membayar fidyah, (yaitu) berpuasa, bersedekah, atau berkurban “. (QS. Albaqarah: 196)

Dari Sabda Rasulullah SAW kepada Ka’ab bin Ujrah RA, Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Tampaknya rasa pusing di kepalamu itu membuatmu sakit?” Ia menjawab, “Betul, ya Rasulallah!” Rasulullah SAW pun bersabda, “Cukurlah rambutmu itu, lalu berpuasalah selama tiga hari, memberi makan enam orang miskin, atau berkurban satu ekor kambing.” (Hadits muttafaqun ‘alaih)

Ayat dan hadits itu menetapkan tentang mencukur rambt. Para lama menganggap memotong kuku, memakai pakaian berjahit dan memakai wewangian serupa dengan mencukur rambut. Para imam mazhab empat setuju dengan ketetapan ini.

Pendapat empat madzhab perihal mencukur rambut.

a. Menurut Mazhab Hanafi

Seorang yang berihram wajib membayar dam jika mencukur seperempat rambut kepalanya atau seperempat (lebih) jenggotnya. Namun jika mencukur kurang sedikit dari itu, wajib mengeluarkan sedekah setengah sha’ makanan pokok (beras, kurma atau gandum). Adapun rambut halus dibadan, jika seluruhnya dicukur (seperti rambut di dada, betis, salah satu ketiak, atau bulu kemaluan), wajib baginya membayar dam, tetapi jika kurang sedikit dari itu, ia harus memberi makan kepada orang miskin.

b. Menurut Mazhab Maliki

Jika mencukur rambutnya dapat menghilangkan penyakit (kepala)nya, wajib baginya membayar dam. Begitu juga dengan mencukur rambut dibadannya (seperti rambut di dada, jenggot, salah satu ketiak, atau bulu kemaluan tanpa melihat jumlah helai rambut yang dipotong) karena unsur kesenangan dan menghilangkan penyakit maka wajib membayar dam. Jika menghilangkan sehelai atau beberapa helai rambut bukan untuk menghilangkan penyakit, ia harus membayar dengan memberi sejumlah makanan kepada orang miskin. Namun ,  tidak ada kewajiban apa-apa baginya jika rambutnya berjatuhan karena dibelai-belai sewaktu wudhu atau karena mandi.

c. Menurut Mazhab Syafi’i dan Hambali

Membayar fidyah wajib bagi orang yang berihram mencukur rambut meskipun hanya tiga helai rambut atau lebih. Dalam riwayat lain menurut mazhab Hambali, “Empat helai rambut atau lebih dan dibawah jumlah tersebut diharuskan membayar fidyah untuk sehelai rambutnya adalah satu mud makanan.” (1 mud = ± 3/4 kg beras/ makanan pokok).

2. Memotong Kuku 

a. Menurut Mazhab Hanafi

Jika memotong kuku tangan/ kaki secara keseluruhan, orang yang berihram diwajibkan membayar dam. Seandainya ia memotong dari tiap jari tangan itu empat kuku, ia tidakwajib membayar dam karena dengan cara itu tidak sempurna manfaat suatu tangan. Oleh karena itu, wajib baginya mengeluarkan sedekah bagi setiap kukunya itu jika ia memotong kurang dari lima kuku.

b. Menurut Mazhab Maliki

Status hukum memotong kuku sama dengan status hukum memotong rambut. Hukum fidyahnya berkitan dengan menghilangkan rasa sakit. Walaupun hanya memotong satu buah kuku karena dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit, maka ia harus membayar fidyah. Jika bukan unuk menghilangkan rasa sakit, bayarannya adalah segenggam makanan. Jika memotong dua kuku atau lebih, ia harus membayar fidyah secara mutlak.

c. Menurut Mazhab Syafi’i dan Hambali

Status hukum memotong kuku sama dengan status hukum memotong rambut sehingga wajib membayar fidyah jika memotong kuku atau lebih. Jika satu kuku, dikenai denda/ fidyah satu mud, Jika dua kuku, berarti dua mud.

Pendapat Kalangan mazhab Syafi’i dan Hambali

Kalangan yang menerangkan wajibnya membayar fidyah jika memotong lebih dari tiga helai rambut memilik dalil dari Allah SWT:

“Janganlah kamu mencukur kepalamu (yaitu rambut di kepalamu).” (QS. Al Baqarah 196)

Adapun batas yang dinamai dengan rambut adalah tiga helai rambut. Oleh karena itu, mereka mewajibkan membayar fidyah untuk tiap helai rambut atau lebih. Mengenai pendapat mereka “Untuk setiap helai rambut satu mud; dua helai, dua mud; dalilnya adalah. “Sesungguhnya Allah SWT telah mengalihkan denda (membunuh) binatang buruan dari menyembelih hewan ke mengeluarkan makanan. dalam hal itu, batas wajib memberikan makanan adalah satu mud. Oleh karena itu, wajiblah baginya membayar satu mud itu.”

Imam Nawawi berkata dalam kitabnya Syarah Muhadzdzab, “Imam Haramain berkata tentang wajibnya membayar satu mud untuk setiap satu helai rambut.” Pendapat itu adalah pendapat yang masyhur dan didukung oleh pendapat ulama terdahulu.

Adapun alasan mazhab Hanafi mewajibkan membayar dam adalah karena mencukur seperempat kepala itu sama dengan mencukur keseluruhan.

3. Membayar Fidyah Pakaian.     

Jika seorang yang berihram memakai pakaian berjahit, maka ia harus melakukan hal sebagai berikut:

a. Menurut Mazhab Hanafi

Dia tidaka harus membayar dam kecuali jika memakainya sehari penuh atau semalaman penuh karena dengan memakai sehari penuh itu, kemungkinan besar ia merasakan manfaat pakaian itu, Jika memakainya kurang dari itu, ia harus membayar sedekah 1/2 sha’ gandum/ beras / kurma atau juwawut (1/2 sha’ = 2mud = ± 1,5 kg beras). Imam Abu Yusuf berkata:”Jika ia memakai pakaian itu lebih dari masa setengah hari, ia wajib membayar dam.”

b. Menurut Mazhab Maliki

Ia wajib membayar fidyah jika mengambil manfaat dari pakaian itu (untuk menahan panas atau dingin) atau masa pakainya cukup lama (seharian penuh). Jadi, jika kita memakai pakaian tersebut lalu menanggalkannya atau sama sekali tidak memanfaatkan pakaian itu dari rasa dingin atau panas, tidak ada kewajiban baginya membayar fidyah.

c. Menurut Mazhab Syafi’i dan Hambali

Sesungguhnya memakai pakaian itu tidak diukur dengan lama atau pendeknya waktu pemakaian, melainkan dengan pemanfaatannya. Jika ia memakai dengan secara sengaja dan sadar ( baik sebentar ataupun lama), ia tetap harus membayar fidyah.

4. Membayar Fidyah Wewangian/ Parfum

Berdasarkan kesepakatan empat imam mazhab, wajib membayar fidyah jika memakai wewangian secara sengaja dan tidak wajib bagi orang yang lupa dan tidak tahu menurut kalangan ulama mazhab Syafi’i dan Hambali. Akan tetapi menurut ulama mazhab Hanafi dan Maliki  seseorang yang lupa itu sama setatus hukumnya dengan orang yang sengaja.

Cara Pembayaran Fidyah Pelanggaran larangan Ihram

Anda bisa mengambil salah satu pendapat dari empat mazhab tersebut apabila Anda melakukan salah satu pelanggaran. Pembayaram fidyah tersebut diberikan kepada orang miskin dan harus di Tanah Suci Makkah, Bukan di Madinah apalagi di Tanah Air.

Sebagai contoh kasus: Jika Anda ketika sedang berihram dengan sengaja mencabut sehelai rambut maka Anda wajib membayar fidyah 1 mud makanan pokok/ beras/ kurma/ gandum. Cara menghitungnya: 1 mud setara dengan 3/4 kg berat. Untuk lebih mudahnya genapkan saja menjadi 1 kg. Harga 1 kg beras sekitar 3 real maka fidyah yang wajib Anda keluarkan atau bayarkan adalah 3 real. Berikan fidyah tersebut ke orang miskin/ Pengemis di sekitar Masjidil Haram atau orang-orang yang membersihkan Masjidil Haram (cleaning Service) sebab mereka masih tergolong orang miskin.

Jika Anda mencabut dua helai rambut maka tiap satu helai adalah 1 mud, jadi jika 2 helai rambut, fidyahnya 2 mud (1,5 kg beras). Hitungan uang real 1,5 X 3 real = 4,5 real yang wajib Anda bayarkan ke orang miskin.

Jika mencabut/ memotong lebih dari tiga atau empat helai rambut, wajib membayar fidyah atau bersedekah 1/2 sha’ makanan yang mengeyangkan kepada masing-masing 6 orang miskin. Cara menghitungnya sebagai berikut: 1/2 sha = 2 mud = 1,5 kg beras kepada 6 orang miskin, jadi 1,5 X 6= 9, 1 kg beras harganya 3 real jadi total sedekah yang harus dibayarkan 9 X 3 real= 27 Real, genapkan aja menjadi 30 Real. Jadi masing-masing orang miskin mendapatkan 5 real. mudah kan?

Dalam hal pelanggaran ihram ini Anda lah (sebagai jamaah haji) yang menjadi jurinya karena hanya anda yang tahu apakah Anda melanggar larangan ihram atau tidak, orang lain tidak akan tahu hal ini dan Allah SWT yang menjadi saksi atas pelanggaran larangan ihram ini. Jika Anda melanggar ihram jangan pernah ada niat untuk menghindarinya untuk tidak menunaikan keawajiban membayar fidyah atau damnya. Karena hal itu akan merusak ibadah haji. Segeralah bayarkan jika anda melanggar larangan ihram ini sebab pembayaran fidyah atau dam hanya bisa dilaksanakan di Tanah Suci Makkah bukan di tempat lain. Jika Anda sering melakukan pelanggaran larangan ihram catatlah dalam buku kecil dan segeralah tunaikan kewajiban membayar fidyah atau dam setelah kembali dari Mina. Kami berharap Anda bisa menjaga larangan-larangan ihram tersebut. Tingkat kepatuhan Anda dalam menjaga larangan ihram selama berihram adalah salah satu bentuk ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Tidak yang lebih utama selain ketaqwaan kita itu dihadapan Allah SWT. Semoga kita  selalu istiqomah dalam memegang teguh agama.

Sumber: rabihatour.com

Selasa, 21 Oktober 2014

ALBUM FOTO KEGIATAN HAJI 2014

Alhamdulillah, sebagai sarana komunikasi blog KBIH Nurul Hikmah kembali dapat menyapa para sahabat haji semua. Kali ini, kami hendak menampilkan laporan visual dari kegiatan haji KBIH Nurul Hikmah 2014.

Kami sangat bersyukur di sela-sela prosesi haji yang menguras tenaga, emosi kesabaran dan ketabahan masih dapat mengabadikan dokumentasi. Terlebih, syukur alhamdulillah tahun 2014 M atau 1435 H ini masuk dalam haji akbar, di mana semua jamaah ingin maksimal dalam beribadah.

Berikut album foto kegiatan haji 2014 dari mulai keberangkatan di Masjid Raya Al-Azhom hingga kegiatan di Tanah Suci. Kami mohon maaf kepada Bapak/ibu jamaah haji yang belum terambil mata kamera kami.

Pimpinan Kloter 6 JKS
Pimpinan KBIH Nurul Hikmah

Jamaah bersiap di Masjid Raya Al-Azhom untuk pemberangkatan




Gubernur Banten menyematkan slayer kepada ketua kloter

TPIHI

Siap diberangkatkan dalam bus menuju asrama haji Bekasi

Di asrama haji Bekasi menunggu panggilan masuk asrama




04 Sep 2014, Siap diterbangkan ke Madinah dari Halim PK

Para petugas pun gak mau ketinggalan eksis bin narsis

Saat bersiap city tour

Sopir yang paling bahlul Karom ditinggal

Kebun Kurma

Walau rada mahal, beli terus

Ziarah Uhud, petugas anti kemusyrikan siaga 1

Berpose di makam syuhada uhud

Masjid Khandaq

Pengajian



Pagi hari di Masjid Nabawi

Subuh di Masjid Nabawi bersiap berangkat ke Makkah

Jabal Rahmah



Thawaf Wada, Masjidil Haram

Selasa, 03 Juni 2014

UMROH 2015, KBIH NURUL HIKMAH


UMROH AWAL JANUARI 2015. PAKET PERJALANAN 9 HARI.

Persyaratan

1. Paspor Dengan Nama Tiga Suku Kata Contoh: ANDI LALA SYAMSUDIN
2. Vaksin Miningitis
3. Biaya $ 2450 + Rp 750.000 (Airport Tax + Handling)
4. Pas Foto Berwarna 4 x 6 = 8 Lembar (ukuran wajah 80%, latar belakang warna putih)
5. KTP & Kartu Keluarga Asli
6. Akte Lahir/Ijazah/surat nikah Asli

Dokumen diserahkan 30 hari sebelum keberangkatan.

Akomodasi
1. Hotel Bintang 4 atau 5
2. Madinah : Hotel Saha Safir/ Dallah Taibah atau Setaraf
3. Makkah : Grad Zamzam / Ritaz
4. Jeddah : Holiday inn
5. Pesawat : Saudi Airlines atau Garuda Indonesia

Keterangan
Biaya Perjalanan Termasuk:
1. Tiket Penerbangan Pulang Pergi Economi Class
2. Visa Umroh
3. Akomodasi sesuai Program
4. Makan 3 X Sehari
5. Muthawwif/Pembimbing
6. Ziarah
7. Air Zam-zam 10 Liter
8. Perlengkapan Umroh

Biaya Tidak Termasuk:
1.  Biaya Pembuatan Paspor
2. Suntik Vaksin Miningitis
3. Kelebihan Bagasi Max 30 Kg
4. Acara/Tour-tour di luar program/bersifat pribadi
5. Biaya Mahram bagi perempuan ≤ 45 Tahun
6. Dan berbagai dokumen lainnya.


BISA DENGAN SISTEM MENABUNG DAHULU SEBELUM BERANGKAT
DIPIMPIN LANGSUNG DENGAN KAMI

H. AHMAD DAMANHURI (H. WIWI)
Tlp. : 021 94528327 / 085693657045
Email : h_damanhuri85@yahoo.co.id
www.kbih-nurul-hikmah.blogspot.com

* Harga paket sewaktu-waktu dapat berubah tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Senin, 24 Maret 2014

Manasik Haji 1: Pengertian & Hukum Haji dan Umrah



PENGERTIAN HAJI

Secara bahasa Haji berarti maksud atau keinginan untuk berkunjung. Kata haji merupakan masdar dari Hajja, Yahujju yang juga berarti berniat atau bermaksud.

Sedangkan menurut syara’ Haji berarti, pergi dengan tujuan tertentu (yaitu Baitul Haram dan Arafah) pada waktu tertentu (pada bulan-bulan haji) dan melaksanakan amal/perbuatan tertentu (yaitu wukuf di Arafah, thawaf, sa’I dan lain-lain) dengan syarat-syarat tertentu pula.

Tempat-tempat tertentu yang dimaksud dalam pelaksanaan haji yaitu, Ka’bah, Mas’a (tempat sa’i), Padang Arafah, Muzdalifah (tempat mabith) dan Mina ( tempat melontar jumroh).

PENGERTIAN UMRAH

Secara bahasa Umrah adalah ziarah artinya berkunjung dan maksud, tujuan, niat dan juga sengaja. Yaitu menyengaja mengunjungi Baitul Haram untuk thawaf, sa’i.

Adapun menurut istilah syara’ Umrah bermakna, Berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) untuk melaksanakan ibadah ihram di Miqat, thawaf, sa’I dan cukur.

Dari sisi tata cara ibadah Umrah menyerupai Haji oleh sebab itu sering kali orang menyebut umrah dengan istilah haji kecil. Perbedaannya dengan kata Haji adalah; dalam umrah tidak melakukan jumrah, wukuf dan mabith.

DALIL HAJI

Dalil Al-Qur’an

Terdapat dua dalil perihal kewajiban Haji, yakni dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist.
Adapun dalil yang bersumber dari Al-Quran terdiri dari tiga surah. Pertama tertulis dalam surah Al-Imran (3) ayat 97.

“… Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesunggunya Allah Maha Kaya(tidak memerlukan suatu apa pun) dari semesta alam.”

Kedua terdapat dalam surah Al-Hajj (22) ayat 27-28.

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak dan berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”

Dan ketiga tertulis dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 196.

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelilah) kurban ¹ yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu², sebelum kurban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu ada yang sakit atau gangguang di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajib baginya membayara fidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji –haji tamattu’- ( di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah). Dan bertakwalah kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaannya.”

¹. Yang dimaksud dengan kurban di sini ialah menyembelih binatang kurban sebagai pengganti wajib haji yang ditinggalkan; atau sebagai denda karena melanggar hal-hal yang dilarang dalam ibadah haji.
². Mencukur kepada adalah salah satu amalan wajib dalam haji, sebagai tanda selesainya ihram.

Dalil Hadist

Dan dalil yang bersumber dari hadist meliputi hadist Rasulullah yang diriwatkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhori & Muslim dan Imam Tirmdzi. Juga ada hadist lain yang menerangkan tentang kewajiban melaksanakan haji hanya satu kali seumur hidup.

Dari Ibn Abbas RA. Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kalian segera mengerjakan haji karena sesungguhnya seseorang tidak pernah tahu halangan yang akan merintanginya.” (HR. Ahmad)
Dari Ibn Umar RA berkata: Aku mendengar  Rasulullah SAW bersabda : “Islam itu didirikan atas lima pilar: syahadat tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhori & Muslim)

Dari Ali Ibn Abi Thalib RA. Rasulullah SAW. bersabda: “Siapa yang telah memiliki bekal dan kendaraan lalu dia tidak berhaji, hendaklah ia mati dalam keadaan menjadi orang Yahudi atau Nasrani.” (HR. Tirmidzi)

Wajib Haji Sekali Seumur Hidup

Dan dalil berikutnya adalah menjelaskan perihal kewajiban haji yang hanya satu kali seumur hidup dan selebihnya dihitung sebagai ibadah sunnah.

Hadis ke 720 di dalam Bulughul Marom, bahasan Kitab Haji, menjelaskan : "Rasulullah SAW telah berkhutbah di hadapan kami, dan berkata "Allah SWT telah mewajibkan haji pada kalian. Lantas Al Aqro bin Habis, berkata "Apakah haji tersebut wajib setiap tahun? Rasul berkata, seandainya iya, maka kukatakan wajib (setiap tahun), namun haji cuma wajib satu kali. Siapa yang melebihi dari satu kali, maka itu hanyalah haji sunnah".
  
Bersambung…

Jumat, 07 Maret 2014

Tips Menjaga Kesehatan Kulit Selama di Tanah Suci

Faktor cuaca yang ektrem dan jauh berbeda antara di tanah air dan di tanah suci menjadi salah satu penyebab yang mengganggu kesehatan, terutama kesehatan kulit jama’ah, dalam menjalankan ibadah di tanah suci. Beberapa gangguan kesehatan kulit yang biasa terjadi akibat cuaca tersebut di antaranya.

1.       Bibir pecah-pecah 
2.       Kering dan kasar 
3.       Kulit kriput 
4.       Kulit menebal dan hitam 
5.       Kulit kaki pecah-pecah 
6.       Hingga berdarah


Berikut adalah beberapa tips yang patut menjadi perhatian bagi jama’ah haji dan umrah selama berada di tanah suci agar terhindar dari gangguan kesehatan tersebut. 

1.       Perbanyak minum (utamakan dalam intensitas yang sering) 
2.       Konsumsi makanan sayur dan buah serta vitamin 
3.       Gunakan payung 
4.       Gunakan masker hidung 
5.       Gunakan kaos kaki dan sendal atau sepatu yang lunak 
6.       Sebagai penjagaan dan pengobatan gunakan pelindung kulit khusus

Untuk segala gangguan kesehatan kulit tersebut, kini telah hadir Ihram Skin Care sebuah produk dengan Pelembab dan SFP tinggi tanpa alkohol dan parfum yang memberikan perlindungan terbaik kepada para calon jama’ah haji dan umroh selama di tanah suci. Terdapat empat varian produk lengkap yang dikemas dalam satu paket perlindungan  Ihram Skin Care. 

1.       Body lotion plus pelembab tinggi & Sun Protection Factor (SPF) 30 
2.       Liquid body soap plus pelembab 
3.       Foot cream plus pelembab tinggi 
4.       Sub Block plus pelembab tinggi dan SPF 50


Keempat produk tersebut berfungsi untuk memberikan perlindungan dengan penggunaan sebagai lotion pada tubuh, sabun, pelembab kaki dan pelindung matahari. Sementara untuk tempat penggunaan dapat digunakan mulai dari tiba di Bandara, Tempat Miqot, Umrah siang dan Malam selama di tanah suci.

Kelebihan yang dimiliki produk ini yang tidak dimiliki produk kosmetik lain pada umumnya adalah dapat digunakan di manapun dan saat melakukan apa pun, termasuk berihram. Saat berihram jama’ah haji dan umrah dilarang menggunakan parfum, maka dengan Ihram Skin Care jama’ah dapat menggunakan produk ini sekalipun saat ihram karena ia tidak mengandung parfum dan alkohol.

Ihram Skin Care, 100% terbuat dari bahan alami madu dan VCO. Madu memiliki kelembaban dan kandungan protein yang tinggi sangat bermanfaat bagi kesehatan kulit di iklim yang sangat ektrem. Sementara Virgin Coconut Oil (VCO) memiliki anti-oksidan dan penggunaannya telah menjadi tradisi di masyarakat juga memberi manfaat perlindungan bagi kesehatan kulit yang sudah terbukti.

Info lebih lanjut klik http://ummu-faela.blogspot.com/p/blog-page_8.html

Selamat menunaikan haji dan umrah.

Senin, 03 Maret 2014

Meluruskan Niat ke Tanah Suci

Menjelang berangkat ke tanah suci, sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri: niat apakah yang melandasi kepergian kita berhaji? Realitasnya, ternyata sangat beragam. Mulai dari yang berhaji karena ‘tidak sengaja’ diajak saudara atau penugasan kerja, ingin dapat predikat dan penghargaan masyarakat, sampai kepada yang memang ingin beribadah menyempurnakan kualitas jiwanya disana.

Apakah tidak boleh kita memiliki background niat yang bermacam-macam seperti itu? Ooh, boleh-boleh saja, tidak ada yang melarang. Tetapi, ternyata Allah mengajarkan di dalam Al Qur’an agar kita meluruskan niat dalam menjalani ibadah ini. Justru, dikarenakan beragamnya niatan orang-orang yang datang dari segala penjuru Bumi itu.

QS. Al Baqarah (2): 196
Wa atimmul  hajja wal ‘umrota lillaah...
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh(mu) karena Allah semata...

Kata ‘menyempurnakan’ dalam ayat itu mengindikasikan adanya berbagai macam niat dalam beribadah haji. Termasuk niat untuk sambil berdagang atau bekerja yang memang diperbolehkan oleh Allah, sebagaimana diinformasikan dalam ayat-ayat sesudahnya. Tetapi, ketika ritual haji sudah dimulai, semuanya harus meluruskan niat untuk hanya beribadah kepada Allah semata. Banyak-banyak berdzikir mengingat Allah.

QS. Al Baqarah (2): 198
Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia Tuhanmu (berniaga di musim haji). Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam (sebanyak-banyaknya). Dan berdzikirlah kepada Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu. Dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang tersesat.

Bahkan anjuran untuk menyempurnakan niat itu berlaku juga bagi mereka yang meniatkan ibadah, tetapi belum sempurna ‘karena Allah’. Banyak peribadatan sepanjang haji itu yang bisa menjebak kita untuk ‘tidak karena Allah’. Sehingga membuat ibadah kita kurang sempurna.

Seorang kawan ketika ditanya tentang niatnya beribadah haji menjawab begini: ‘’Saya ingin berdoa di tanah suci agar masalah yang menghimpit hidup saya cepat teratasi.’’ Sebuah niat ibadah yang cukup baik, tetapi bisa menurunkan kesempurnaan haji jika ‘meleset’ dalam persepsi. Mirip dengan seseorang yang menjalankan shalat Dhuha karena ingin dapat rezeki, atau melakukan puasa karena ingin lulus ujian.

Yang begini ini, jika tidak kita sadari, bisa menjebak kita ke dalam praktek ibadah yang bukan karena Allah semata. Tetapi, dikarenakan rezeki dan lulus ujian. Jangan. Ibadah mesti ‘lillaahi ta’ala’ – hanya karena Allah semata. Bahwa, setelah itu kita menjadi dekat dengan Allah, dan segala macam masalah hidup teratasi dengan baik, itu adalah ‘bonus’ dari perilaku yang benar di jalan Allah.

Niatan dan persepsi yang salah dalam berdoa di tanah suci itulah yang lantas melahirkan berbagai praktek yang keliru pula. Sehingga banyak orang yang ‘titip doa’ kepada saudara atau sahabatnya yang sedang menunaikan ibadah haji, agar dibacakan di depan Kakbah. Mereka beranggapan doa yang dibacakan di tempat mustajab itu pasti terkabul, tidak sebagaimana kalau mereka panjatkan di tanah air. Apalagi ada yang menambahkan dengan kalimat begini: ‘’Ya Allah, kami sudah bertahun-tahun berdoa di tanah air belum juga Engkau kabulkan, kini kami datang ke rumah-Mu untuk berdoa agar Engkau penuhi...’’

Rupanya si jamaah haji atau orang yang titip doa itu mengira Allah berada di dalam Kakbah. Mungkin karena tempat suci itu disebut sebagai Baitullah alias ‘Rumah Allah’. Sedangkan di tanah air ia merasa jauh dari Allah, sehingga doanya tidak mustajab. Tentu saja yang begini ini berselisihan dengani ajaran Al Qur’an yang mengatakan bahwa Allah itu sudah sangat dekat – lebih dekat dari urat leher kita sendiri – dan Dia akan mengabulkan doa orang-orang yang memang bermohon kepada-Nya dimana pun ia berada, selama ia melakukannya dengan benar.

QS. Al Baqarah (2): 186
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia (memang) bermohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman (hanya) kepada-Ku, agar mereka berada di dalam kebenaran.

Berhaji harus meluruskan niat karena Allah semata. Di tanah suci itulah kita sedang ‘bertamu’ kepada-Nya untuk berburu hikmah dalam menyempurnakan kualitas jiwa. Meningkatkan spiritualitas menuju kesempurnaan seorang hamba di hadapan Tuhannya. Meniru keikhlasan keluarga Nabi Ibrahim yang hanif (lurus) dalam bertauhid hanya kepada-Nya...

QS. An Nahl (16): 120-122
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (ia pandai) mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Walahu a’lam bishshawab.

sumber: http://m.facebook.com/notes/agus-mustofa/tasawuf-haji-5/10151075424041837/?p=10

Rabu, 27 November 2013

PROGRAM UMROH KBIH NURUL HIKMAH 2014

Alhamdulillah, atas ijin Allah SWT, setelah usai menjalankan tugas membimbing dan melayani jama'ah haji dari mulai tanah air hingga ke tanah suci dan kembali lagi ke tanah air pada musim haji 2013. KBIH Nurul Hikmah kembali membuka bimbingan dan melayani jama'ah untuk ibadah umroh pada musim umroh 2014.

Untuk itu, kami informasikan segala hal yang terkait dengan persiapan dan persyaratan yang diperlukan untuk keberangkatan jama'ah umroh tahun 2014. Berikut adalah informasinya, untuk informasi yang belum termuat Bapak/Ibu dapat langsung menghubungi kontak yang tercantum dibawah.

PERSYARATAN:
1. Paspor dengan nama tiga suku kata. Contoh: Andi Lala Syamsudin
2. Kartu Vaksin Miningitis.
3. Pas Foto berwarna. 3 x 4 = 8 lembar, 4 x 6 = 8 lembar, dengan ukuran wajah 80%
    Berlatar belakang putih
4. KTP Asli
5. KK Asli
6. Akte Lahir/Ijazah Asli
7. Buku Nikah Asli

*Dokumen Harus di serahkan 30 hari sebelum keberangkatan

AKOMODASI:
1. Hotel Bintang Empat, 1 kamar 4 orang.
    a. Madinah : Hotel Saha Safir/Dallah Taibah atau Setaraf
    b. Makkah : Grand Zamzam/Ritaz/Setaraf
    c. Jeddah : Holiday Inn
2. Pesawat : Garuda/Saudi Airline



BIAYA PERJALANAN TERMASUK:
·         Tiket Penerbangan Pulang Pergi Economi Class
·         Visa Umroh                                              
·         Akomodasi  Sesuai Program
·         Makan 3 X Sehari
·         Mutawwif / Pembimbing
·         Ziarah
·         Air Zam-zam 10 Liter
·         Perlengkapan Umroh

BIAYA TIDAK TERMASUK:
·         Biaya Pembuatan Paspor
·         Suntik Vaksin Miningitis
·         Kelebihan Bagasi Max 30 Kg
·         Acara / Tour-tour di luar program / bersifat pribadi
·         Biaya Mahram bagi perempuan ≤ 45 Tahun
·         Pembuatan berbagai dokumen pendukung

DIDAMPINGI LANGSUNG OLEH KAMI
BISA DENGAN PERSIAPAN MENABUNG SATU TAHUN
Keberangkatan Dua Kali Dalam Setahun
"BULAN MAULID DAN BULAN SYA'BAN
Informasi: H. AHMAD DAMANHURI / H. WIWI
Telp. 021 94528327 / 0856 93657 045 
Email: h_damanhuri85@yahoo.co.id